Nov 28 2013

Sudahkah Anda Menyimpan Obat Dengan Benar?

Published by at 20:39 under Artikel Umum

p3k

Dear sahabat Wisnu

Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu sehat. Penulisan kali ini akan mengulas mengenai penyimpanan obat

Kenapa sich  obat harus disimpan?
Barangkali ada yang beralasan harus menyimpan obat karena pemberian dari pujaan hatinya, pas sedang sakit. Sehingga obat tersebut akan selalu disimpan selamanya. Selalu dikenang di hati dan obatnya akan dimuseumkan. Cieeeeee, so sweeeeeet….hahaha.
Obat memang harus disimpan, terutama jika obat itu tidak dihabiskan dalam sekali minum. Apalagi jika obat tersebut digunakan secara rutin, misal untuk penyakit penyakit yang menerus (hipertensi, kencing manis, dan sebagainya)
Jika penyimpanan obat tidak tepat, malah justru akan membuat obat menjadi rusak dan berbahaya jika digunakan.
Apa tanda tanda kerusakan obat? 
Tanda yang bisa diamati secara sederhana adalah adanya perubahan fisik pada bentuk obat, yang berbeda dengan kondisi di awal. Perubahan ini dapat berupa perubahan bentuk, warna, bau, ataupun rasa.Contohnya adalah puyer yang menjadi lembab, kapsul yang menjadi lengket, tablet yang menjadi berbintik bintik, ataupun cairan yang menjadi keruh.
 Apa penyebab obat bisa rusak?
Obat dapat rusak karena berbagai hal. Misal adanya air yang membuat puyer ataupun kapsul menjadi lembek. Obat mempunyai karakteristik sendiri sendiri. Lembabnya puyer/ lengketnya kapsul dikarenakan obat yang di dalam puyer/kapsul itu memang mempunyai sifat higroskopis (mudah menyerap uap air di udara).
Obat dapat juga rusak akibat suhu tinggi. Misalnya saja sediaan suppositoria (sediaan obat yang dimasukkan ke dubur/anus, misal pada kasus konstipasi/sembelit). Sediaan ini harusnya disimpan di dalam suhu dingin/ dalam kulkas (BUKAN di freezer). Sediian ini akan mencair dan rusak jika dibiarkan disimpan di suhu kamar.
Bagaimana penyimpanan obat yang benar??
Berikut aturan tentang penyimpanan obat yang benar yang saya ambil dan saya modifikasi sedikit tanpa mengubah maknanya. Saya ambil dari Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, terbitan Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan tahun 2006.

1. Jauhkan penyimpanan obat dari jangkauan anak anak

Anak anak cenderung menyukai sesuatu yang berwarna mencolok dan berasa manis. Anak anak juga bisa sakit jika daya tahan tubuhnya lemah. Banyak sekali produk obat yang dikemas dengan warna yang mencolok. Sering kita lihat iklan televisi yang menawarkan sirup obat ataupun tablet penurun panas dengan rasa buah. Tentu bisa kita bayangkan, jika obat tersebut selalu diminum anak dengan alasan rasanya enak, meskipun si anak tidak sakit. Kalaupun orang tua sudah melarang, jika obat mudah dijangkau anak tentu hal ini sangat berbahaya. Padahal dosis obat untuk anak dan dewasa jelas berbeda.

2. Simpan obat dalam kemasan aslinya, dan dalam wadah tertutup rapat

Setiap obat yang dikemas oleh pabrik, selalu dikemas dalam wadah yang menjamin stabilitas obat selama didistribusikan ataupun disimpan di apotek/tangan konsumen. Contohnya misal sediaan obat yang dikemas dalam wadah berwana gelap (coklat tua) dari kaca. Obat tersebut dikemas demikian, karena obat itu sangat mudah rusak jika terkena sinar matahari.Oleh sebab itu, jangan memindahkan isi obat ke dalam wadah lain, meskipun wadah itu sangat kamu suka (karena imut  dan lucu bangeeeeeet hehehe)
 Contoh obat yang harus disimpan dalam wadah rapat adalah tetes mata. Sediian obat ini memang menggunakan pelarut yang steril. Sehingga bisa dibayangkan, jika wadah tetes mata tidak ditutup rapat, ada kemungkinan bisa terkontaminasi bakteri dan mikroba lain.
Hal ini bukannya menyembuhkan mata, tapi malah membahayakan mata.

3. Ikuti petunjuk penyimpanan obat sesuai petunjuk di kemasan obat.

Bacalah informasi yang ada di kemasan obat. Biasanya jika tidak dikatakan lain, obat lebih sering disimpan di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari.

4. Jangan menyimpan obat yang sudah kadaluarsa di kotak P3K

Ini sich  kurang kerjaan. Mungkin karena alasan di awal tadi ya ^^ (terkait obat pemberian pujaan hati)
Ingat bahwa setelah tanggal kadaluarsa lewat, obat menjadi kurang efektif dan ada yang malah toksik. Hal ini jelas membahayakan orang lain, seandainya obat lepasan tersebut dikonsumsi orang lain.
Alangkah baiknya obat disimpan bersama kemasan aslinya. Jika memang obat berupa lepasan, ada baiknya mencatat waktu kadaluarsanya.
Demikian tulisan yang singkat ini, semoga bisa memberi manfaat bagi pembaca.
Sebarkanlah ilmu meskipun hanya sedikit.
Sampai jumpa di penulisan selanjutnya ………….

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply